Friday, November 16, 2012

Gigit Jari


Muka Jenderal ini tampak merah. Lebih dari satu jam, puluhan ibu-ibu berebut untuk foto bersama dengannya.

"Itu Pak Boy yang sering muncul di Tv One," teriak salah satu Ibu.

Tak mau kalah dengan wartawan yang sudah menunggu sang Jenderal keluar acara, puluhan Ibu-Ibu sambil membawa anak bayi, seakan tidak cukup berfoto hanya satu kali bersama sang jenderal.

Wajah sang jenderal yang biasanya tenang dan gerak-geriknya yang selalu "teratur" kini terlihat mulai kikuk.

Mukanya benar-benar merah, senyumnya seakan dilebar-lebarkan, namun tutur katanya tetap santun.

"Hey mana ini," ujar sang jenderal sambil memanggil wartawan

Apa daya kekuatan waratwan dengan Ibu-Ibu ternyata tak sebanding.

Antusiasme Ibu-Ibu menggugurkan rasa penasaran wartawan.

Wartawan hanya dapat gigit jari sambil tertawa menunggu waktu untuk bida wawanacara sang jenderal.

"Pilih Pa Boy jadi Walikota Sukabumi Bu," ujar salah seoarang wartawan.

Saturday, July 21, 2012

Hitam-Putih

Sudah dua minggu di redaksi, alhasil sudah mencoba juga pelbagai desk. Nasional/Politik, Hukum dan sekarang sampai beberapa minggu ke depan di Ekonomi.

Awal hari saat membuka mati setelah 6 jam tertidur langsung menyalakan komputer untuk mempelajari bahan liputan. Menggenjot gas motor kadang sampai 80 km jam agar datang lebih awal ke tempat liputan dan dapat wawncara ekslusif.

Man Jadda Wa Jadda itu memang nyata.

Saya masih ingat berhasil mewwancarai Menteri Agama Suryadharma Ali setelah masuk ke kerumunan ajudannya dan hanya saya yang wartawan. Beberapa minggu berselang dapat wawancara dengan Dahlan Iskan setelah menyelipkan badan di sela-sela pintu lift Gedung BPPT.

Saat Pilkada dipelototi Hatta Rajasa karena bertanya hal yang jarang ditanyakan kepadanya. Tapi dia akhirnya cerita juga.

Berkawan dengan peneliti LIPI dan melihat kebersahajaan seorang Direktur Jenderal Kementerian Perindustrian

Tapi, tidak lupa juga pernah dipermalukan oleh seorang pengamat Tata Negara karena belum riset tapi sudah bertanya, dijutekin wartawan lain karena tidak memberi transkrip, ditelpon dan diomeli redaktur karena salah nulis. Ke ATM berkali-kali untuk beli pulsa.

Hitam-Putih.
Semoga Yang hitam memudar, yang putih mencuat

Sebagian si putih :

http://www.antaranews.com/berita/321717/mahfud-kekerasan-terjadi-karena-tersandera-bayang-bayang-orba

http://www.bisnis.com/articles/industri-singkong-bisa-tarik-investasi-baru

http://www.investor.co.id/home/pemerataan-pariwisata-akan-perkuat-konsumsi-domestik/40876#.UAiq0giq2Sw.twitter

http://edukasi.kompas.com/read/2012/05/15/10134560/Presentasi.Peneliti.di.Forum.Internasional.akan.Dibiayai.Pemerintah

http://www.antaranews.com/berita/321129/hatta-rajasa-saya-merasa-bersalah-berkomentar-politik-

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2012/07/20/107120/dirjen_ikm_perlu_standarisasi_bioenergi_singkong_emas/#.UArS2WGRFlc

http://id.berita.yahoo.com/dahlan-iskan-optimistis-masa-depan-bus-listrik-094238592.html


Sunday, July 1, 2012

Dua Minggu menjadi Pewarta Foto

Dua minggu kemaren, saya berkesempatan menjadi pewarta foto trainee di bawah naungan Biro Foto ANTARA. Jika membuka website atau koran  nasional seperti The Jakarta Post, The Jakarta Globe atau Kompas, seringkali foto dari Biro Foto ANTARA dikutip di situ. Ya, ANTARA memang terkenal dengan kualitas foto jurnalistiknya. Bahkan jurnalis senior Diana Novita mengatakan Biro Foto ANTARA adalah salah satu biro foto terbaik di dunia. 

Oscar Motuloh, Maha Eka Swasta,  Andhika Wahyu, Zarqoni Maksum, hingga Fanny Octavianus adalah sederetan nama yang kerap menghiasi media-media nasional lewat hasil bidikannya. Oscar Motuloh atau yang kerap disapa Bang Oscar diakui sebagai legenda hidup fotografi jurnalistik Indonesia. Beliau juga sering diundang menjadi juri di pelbagai lomba foto di mancanegara.

Kembali ke masa dua minggu sebagai pewarta foto trainee, saya mendapat banyak sekali ilmu dari mentor Andhika Wahyu, Maha Eka Swasta, Zarqoni Maksum dan Fanny Octavianus. Prestasi yang melambung berbanding terbalik dengan sikap mereka yang membumi.

Seminggu pertama, saya banyak belajar tentang memotret peristiwa. Hal yang paling dan akan sealu saya ingat adalah perkataan Zarqoni Maksum yang kira-kira seperti ini 

"memotret foto itu merekam gambar yang jarang dilihat oleh orang dengan mata awam,".

Maksudnya pewarta foto harus bisa mengambil momen dengan pelbagai angle dan pesan yang memberi informasi baru pada masyarakat.

Selain mempelajari teknik foto untuk hard news, saya juga mendapat pemahaman tentang membuat caption foto dan pembuatan foto cerita.

Foto Cerita memberi input tentang mekanisme membuta kumpulan foto naratif. Dari teknis hingga konsep, semua dibedah habis-habisan. Kadang saat briefing, sang mentor yang harus  memotret peristiwa penting untuk ANTARA rela meluangkan waktunya demi maksimalnya pengambilan foto cerita yang berlangsung sekitar tiga hari.

Sepertinya saya harus membuka dan meminjam catatan teman saya jika harus menuliskan semua pelajaran yang didulang dari para pewarta foto tersebut hehe.

Di bawah ini salah satu kumpuan foto peristiwa yang saya ambil saat Bus Transjakarta terbakar di Bundaran HI, Jakarta.

AKARTA, (2/6) - Bus Transjakarta jurusan Blok M - Kota terbakar di Bundaran HI, Jakarta, Sabtu (2/6) siang dan. Penyebab terbakarnya Bus yag dikemudikan Mulyani itu diduga karena hubungan arus pendek listrik di mesin bus. FOTO ANTARA/Indra Arief P


JAKARTA, (2/6) - Sejumlah petugas pemadam kebakaran menyemprotkan air ke badan bus Transjakarta yang terbakar di Bundaran HI, Sabtu (2/6) siang. Bus Transjakarta jurusan Blok M - Kota yang dikemudikan Mulyani diduga terbakar karena hubungan arus pendek pada mesin. FOTO ANTARA/Indra Arief P.


JAKARTA, (2/6) - Sisa Bus Transjakarta jurusan Blok M - Kota yang terbakar di Bundaran HI, Jakarta, Sabtu (2/6). Delapan mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan api yang melalap habis badan bus. FOTO ANTARA/Indra Arief P.

Terdapat watermark peace susdape di foto-foto tersebut. Ya itu adalah nama kelompok saya semasa trainee, dan salah satu cara yang diajarkan untuk menngantisipasi foto dicuri orang, hehe.


Thursday, May 17, 2012

LAGA PARA KESATRIA DEMI LARASATI



Image


Oleh : Indra Arief Pribadi

  Bak jagoan nun Barat Rambo, Raden Samba prajurit Arjuna semakin menjulang, menasbihkan keperkasaannya. Raden Samba menghentak keenam prajurit dengan gerakan kaki dan tangan yang melintang cepat, dihiasi permainan lampu sorot panggung lakon Udowo Sayemboro.
    Dua orang prajurit sudah menggelepar, pasukan ketiga dan keempat harus merelakan badannya diremuk oleh pukulan Raden Samba. Tak jauh dari kumpulan tubuh prajurit yang sudah tak berdaya, dua prajurit lainnya kebingungan sekaligus juga ketakutan.
    Tak dinyana, dua prajurit itu saling membenturkan kepalanya dan pingsan seketika.
    Gelak tawa penonton menyambut aksi itu membahana di Gedung Bharata Yudha di Jalan Kalilio 15, Jakarta, tempat pementasan lakon yang disutradarai Darianto Supono, Sabtu.
    Arena pentas yang diterangi sepuluh lampu dan di depannya terpajang sebuah monitor berisikan teks berjalan berbahasa Indonesia itu mengisahkan Patih Udowo yang sedang mencarikan suami untuk kakaknya Endang Larasati melalui sayembara.
   “Saudara-saudara Udowo sudah menjadi Prabu dan Patih, tapi Larasati masih menjadi selir. Udowo ingin mengangkat status larasati menjadi permaisuri,” ujar Darianto.
    Prabu Kresna setuju dengan sayembara Udowo. Lain halnya dengan Prabu Baladewa.
   Ia menantang Udowo dan terjadilah pertarungan sengit antar keduanya. Prabu Kresna meminjamkan pusaka Wisogondo agar Udowo dapat mengalahkan Baladewa.
   “Aksi mereka menghibur sekali. Gerakan mereka kompak dan terlihat sangat terlatih,”, ujar salah satu penonton Danang Ismanto (41).
    Raden Samba dan Setiyaki yang baru saja membunuh Prabu Kalorodukso kembali ke Kasatriaan Madukoro mengabarkan ikhwal sayembara ini kepada Arjuna. Sang Arjuna yang sedang sakit dan ditemani beberapa istrinya langsung beranjak ke Padepokan Widarakandang untuk memperistri Larasati.
    Setiba di Widarakandang, pintu Arjuna tertutup oleh Udowo.
    Kaki kuat Udowo berpijak pada dinding kemudian meloncat tinggi menghindari kepalan pukul Arjuna. Giliran Udowo yang menyerang dengan melontarkan tendangan ke arah dada Arjuna.
   Arjuna dengan busur panah di punggungnya menghentak ke belakang untuk menghindari serangan Udowo dan seketika memojokan patih anak dari Antagopa itu.
   Riuh rendah musik dari perangkat gamelan yang dimainkan beberapa orang di depan panggung menambah semarak pertarungan keduanya
   Udowo terpojok dan merasakan temaram akibat digdaya kekuatan Arjuna. Akhirnya dia terbunuh di tangan Arjuna.
    Prabu Kresna yang mengetahui hal itu mencoba memelihara asa sang patih dengan menghidupkannya kembali menggunakan pusaka Kembang Wijayakusuma.
    Arjuna yang tidak bisa membunuh Udowo akhirnya lari karena malu bertemu dengan saudara Udowo yaitu Subadra. Namun Kresna mencoba menengahi mereka.
   Sang Prabu juga meminta Subadra menanyakan kepada Arjuna perihal hasrat menikah lagi dengan Larasati yang akhirnya bersambut gemilang dengan pernikahan mereka berdua.
   Dialek Jawa yang kental serta penampilan maksimal dari segi pakaian para tokoh hingga dekorasi panggung turut membawa suasana tradisional Jawa yang khas pada pentas.
   “Pakaian dan pembawaan mereka khas sekali, unsur tradisional Jawanya benar-benar tergambarkan,” kata salah satu pengunjung Ida Farida
   Darianto yang sudah 40 tahun berkecimpung di dunia wayang mengatakan skenario lakon ini sudah dipersiapkan beberapa bulan sebelumnya, tapi pentasnya hanya memerlukan latihan selama lima hari.
   “Aktor kami sudah terlatih, tidak perlu waktu lama dan gladi resik untuk mementaskan lakon ini. Saya ingin menagngkat cerita seorang saudara yang prihatin terhadap saudaranya yang masih jadi pembantu. Udowo sudah menjadi patih, namun Larasati kok masih menjadi pembantu,” ujar Supono yang sudah melanglang ke Eropa dan Australia itu

Perhatikan Penonton Anak-anak
    Di tengah lakon, seperti lazimnya pentas wayang, para Punakawan mencoba beraksi dengan bertanding nembang. Masing-masing Gareng, Semar, Petruk dan Bagong saling lempar untaian lirik lagu.
   “Kalo pengen genit, duduki orong-orong (lubang meriam), simpan di pantat,” ujar salah satu tokoh Punaraka.
   Alhasil lontaran kata itu mengocok perut ratusan penonton.
    Namun terbesit ihwal prihatin ketika para Punakawan berlelucon dengan menyelipkan aksi kekerasan seperti adegan Semar yang menampar Gareng dengan alat yang menyerupai benda tumpul. Masalahnya, di antara penonton terdapat anak-anak yang belum pandai memilah unsur positif dan negatif pada sajian seni.
    Di sisi lain, salah satu penonton Danang menyatakan kekakugamannya pada pementasan wayang orang seperti ini karena bisa menjaga kebudayaan daerah di Jakarta agar terus lestari.
   “Ada tarian, ada suara gamelan, dan humornya bagus membuktikan semua pemain kompak sekali mementaskan wayang orang. Semoga unsur budaya ini bisa terus bertahan di Jakarta,” ujarnya.


Photo : Rangga Pandu

Labels: , , ,

Friday, April 20, 2012

Perdana di Internasional


“Besok kamu liputan ke Unesco!"
    Seruan Pa Anthoni mengawali tugas liputan internasional pertama saya di tempat ini (sebut saja tempat ini A :D). Sudah satu bulan lebih saya belajar banyak tentang ilmu jurnalistik dan profesi seorang jurnalis di A ini. Menyenangkan, menantang sekaligus menyibukkan.
   Gugusan trotoar rapuh menemani saya menuju bangunan bersejarah tempat  menerima materi dan mengawali tugas liputan sehari-hari. Setiba disana, saya sarapan, kemudian membuat wish list dan berangkat ke kantor Unesco yang letaknya ternyata dekat dengan kantor Indonesia Mengajar.
    Dasar anak kemaren sore, saya hanya membawa wish list tanpa membuat appointment dulu dengan mereka. Pengalaman liputan nasional yang tidak terlalu rumit dengan urusan birokrasi membuat saya mengira hal tidak-terlalu-rumit itu pun aka saya temui saat liputan ini.
    Saya menyapa petugas jaga kantor Unesco dan menjelaskan maksud kedatangan saya. Petugas yang kira-kira berusia 30 tahun itu membalas ramah dan menghubungkan saya dengan sekertaris unit budaya Unesco, Ibu Wieske.
   “Halo, dengan siapa ini”
   “Saya Indra dari A, saya dengar tentang beberapa program Unesco yang sekarang sedang berjalan, saya ingin berbincang-bincang tentang hal itu, apakah Mr. Hubert (Direktur) ada waktu”
    “Wah, kamu harus buat janji dulu, lewat email saja kamu kirimkan permintaan interview dan beberapa pertanyaannya ya”
    Okay. Saya pikir ini salah saya yang kurang melakukan persiapan. Saya pun pergi  ke gerai swalayan dengan jaringan internet di bilangan Senayan.
    Singkat cerita, email berisi permintaan interview dan beberapa pertanyaan sudah dikirimkan. Tak lama kemudian saya pun mendapat balasan.
   “Sorry Indra, Mr. Hubert is in overseas mission ……. ”
    Ibu Wieske menawarkan untuk interview minggu depan dengan Mr. Hubert. Saya bilang tentang batas waktu yang harus saya kejar sore hari itu dan saya meminta untuk interview dengan wakil Direktur atau staff ahli program budaya Unesco. Tapi Ibu Wieske bilang yang berhak berbcara kepada pers hanya Mr. Hubert sebagai Direktur. Akhirnya saya hanya membuat berita dengan sumber siaran pers Unesco saja. Agak kecewa saya.
   Esok siang, setelah berita sudah dikirim, saya membuka email dan mendapat tawaran untuk interview dengan Mr. Hubert dan Mr. Manasori. Wah terus terang saya agak deg-degan membaca email itu. Di pikiran saya interview itu nanti akan berjalan sangat formal dan sarat dengan isu-isu penting.


Bersambung

Labels: , ,